Desa Kassi, Kecamatan Rumbia - Pemerintah Desa Kassi melaksanakan kegiatan Rembug Stunting sebagai upaya bersama dalam membahas pencegahan dan penanganan stunting di wilayah desa. Kegiatan ini turut didukung oleh Tim KKN-PPM UGM Attannung Jeneponto 2026 dalam membantu pelaksanaan, penyusunan materi, serta pendampingan jalannya kegiatan.
Rembug Stunting menjadi ruang diskusi antara pemerintah desa, kader, masyarakat, dan pihak terkait untuk memahami kondisi stunting secara lebih menyeluruh. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk melihat bahwa stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak, tetapi juga berkaitan dengan pemenuhan gizi, pola asuh, sanitasi, kesehatan ibu, jarak kehamilan, serta pengelolaan ekonomi keluarga.
Data Stunting dan Keluarga Risiko Stunting di Desa Kassi
Dalam kegiatan ini, disampaikan bahwa di Desa Kassi terdapat 1 kasus stunting dan 14 keluarga risiko stunting yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Dari 14 keluarga risiko stunting tersebut, terdapat 4 keluarga yang memiliki baduta atau anak usia di bawah 2 tahun, serta 10 keluarga yang memiliki balita usia 2–5 tahun.
Kelompok baduta menjadi perhatian penting karena berada pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pada masa ini, pemenuhan gizi anak sangat menentukan tumbuh kembangnya di masa depan. Sementara itu, kelompok balita juga memerlukan pemantauan rutin agar pertumbuhan fisik dan perkembangan anak dapat terus dikejar melalui perbaikan gizi harian dan stimulasi yang sesuai.
“Stunting dapat dicegah apabila keluarga, kader, pemerintah desa, dan masyarakat bergerak bersama mulai dari pemenuhan gizi, pola asuh, hingga perbaikan lingkungan.
Faktor Penyebab yang Menjadi Perhatian
Dalam pembahasan Rembug Stunting, terdapat beberapa faktor yang menjadi perhatian utama. Salah satunya adalah faktor pola reproduksi dan jarak kehamilan. Ditemukan adanya kondisi Pasangan Usia Subur atau PUS dengan risiko seperti terlalu tua dan terlalu banyak anak. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kesehatan ibu dan anak apabila tidak disertai perencanaan keluarga yang baik.
Selain itu, persoalan sanitasi dan air bersih juga menjadi salah satu faktor penting. Beberapa keluarga masih menghadapi tantangan terkait kondisi fasilitas BAB, sumber air, serta jarak septic tank dengan sumber air bersih. Kondisi lingkungan yang kurang sehat dapat meningkatkan risiko penyakit, seperti diare, yang dapat mengganggu penyerapan gizi pada anak.
Beberapa tantangan lain yang juga dibahas meliputi:
- Kebiasaan belanja harian yang kurang tepat, seperti konsumsi makanan instan, jajanan kemasan, gorengan, atau rokok yang tinggi pengeluaran tetapi rendah manfaat gizi.
- Beban tanggungan keluarga yang cukup besar, sehingga kebutuhan gizi anak perlu direncanakan dengan lebih baik.
- Keterbatasan akses sanitasi sehat, yang dapat berdampak pada kesehatan anak dan keluarga.
- Kurangnya pemantauan rutin tumbuh kembang anak, terutama berat badan, tinggi badan, dan status gizi di Posyandu.
Strategi Pencegahan Stunting
Melalui kegiatan ini, masyarakat juga mendapatkan pemahaman mengenai langkah-langkah pencegahan stunting berdasarkan sasaran intervensi. Untuk Pasangan Usia Subur dan calon pengantin, pencegahan dapat dilakukan melalui konseling pranikah, perencanaan kehamilan, serta penggunaan KB modern untuk mengatur jarak kelahiran yang ideal.
Bagi ibu hamil, langkah penting yang perlu dilakukan adalah melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin ke fasilitas kesehatan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta memastikan kecukupan protein dan zat gizi penting lainnya.
Sementara itu, bagi baduta dan balita, pencegahan stunting dapat dilakukan melalui pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, pemberian MPASI bergizi mulai usia 6 bulan, pemenuhan protein hewani, imunisasi dasar lengkap, serta pemantauan rutin di Posyandu.
Solusi yang Ditekankan dalam Kegiatan
Beberapa solusi utama yang ditekankan dalam kegiatan Rembug Stunting antara lain:
- Memprioritaskan protein hewani dalam menu harian anak, seperti telur, ikan lokal, ayam, atau daging.
- Memberikan vitamin dan mineral sesuai kebutuhan, seperti vitamin A, zink, serta Tablet Tambah Darah bagi ibu hamil dan remaja putri.
- Membawa baduta dan balita ke Posyandu setiap bulan untuk memantau berat badan, tinggi badan, serta mendapatkan layanan kesehatan yang diperlukan.
- Menerapkan pola asuh responsif, seperti memberi makan anak dengan sabar, memperhatikan sinyal lapar, menjaga kebersihan tangan, dan memastikan peralatan makan bersih.
- Mengolah air minum dengan aman, terutama dengan merebus air hingga mendidih sebelum dikonsumsi.
- Memperbaiki sarana BAB dan sanitasi keluarga agar lingkungan rumah lebih sehat dan aman bagi tumbuh kembang anak.
Literasi Keuangan Keluarga untuk Mendukung Gizi Anak
Selain membahas gizi dan sanitasi, kegiatan ini juga menekankan pentingnya literasi keuangan keluarga. Salah satu pesan yang disampaikan adalah bahwa pengeluaran harian keluarga perlu diarahkan untuk kebutuhan yang lebih mendukung tumbuh kembang anak.
Sebagai contoh, pengeluaran harian untuk rokok atau jajanan kemasan dapat dialihkan untuk membeli sumber protein seperti telur atau ikan lokal. Dengan pengelolaan sederhana, keluarga dapat lebih memprioritaskan kebutuhan gizi anak tanpa harus menunggu kondisi ekonomi menjadi ideal.
““Bayar gizi dulu, baru yang lain.”
Prinsip tersebut menjadi pesan utama dalam strategi 4 Amplop Sehat, yaitu pembagian pengeluaran keluarga ke dalam beberapa pos: pos gizi, pos sanitasi, pos darurat, dan pos operasional. Dengan cara ini, keluarga diharapkan dapat lebih mudah mengatur kebutuhan harian, terutama agar kebutuhan gizi anak tetap menjadi prioritas.
Harapan dari Kegiatan Rembug Stunting
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Desa Kassi bersama Tim KKN-PPM UGM berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pencegahan stunting sejak dini. Pencegahan stunting tidak hanya dilakukan ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi harus dimulai sejak masa remaja, calon pengantin, kehamilan, hingga anak memasuki masa baduta dan balita.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat kerja sama antara pemerintah desa, kader Posyandu, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi anak-anak Desa Kassi.
Dengan adanya komitmen bersama, Desa Kassi diharapkan mampu menekan risiko stunting dan mewujudkan keluarga yang lebih sehat, sadar gizi, serta mampu mengelola kebutuhan rumah tangga secara lebih bijak.

