Jeneponto - Kabupaten Jeneponto memiliki satu destinasi wisata dengan udara sejuk dan cukup dikenal oleh warga lokal, yaitu Lembah Hijau Rumbia (LHR). Destinasi wisata tersebut berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Hamparan pepohonan hijau, suara air, serta bangunan berbahan bambu menjadi pemandangan pertama yang menyambut.
Lembah Hijau Rumbia terbenuk dari kegiatan penghijauan yang dilakukan sejak tahun 2006. Ridwan Nojeng bersama para pemuda dan masyarakat setempat mulai menanam berbagai jenis pohon untuk memperbaiki kondisi lingkungan dan menjaga sumber air. Usaha tersebut perlahan membuahkan hasil hingga kawasan yang sebelumnya tidak terlalu dikenal kemudian berubah menjadi lingkungan yang hijau dan asri. Pada tahun 2014, tempat ini mulai dikembangkan menjadi kawasan wisata berbasis masyarakat.
Lembah Hijau Rumbia membawa konsep kembali ke alam atau back to nature yang terlihat dari berbagai bangunan yang menggunakan bambu dan atap rumbia. Penggunaan bambu membuat kawasan terlihat unik hingga memperkuat identitas Lembah Hijau Rumbia sebagai destinasi ekowisata. Lembah Hijau Rumbia berada di wilayah Dusun Manggunturu dan Dusun Boro, Desa Tompobulu. Lokasinya berjarak sekitar 27 kilometer dari pusat Kabu paten Jeneponto di Bontosunggu. Wisatawan yang berangkat dari Makassar perlu menempuh perjalanan sekitar 91 kilometer menuju Jeneponto. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke arah utara menuju Kecamatan Rumbia.
Pengunjung dapat menggunakan mobil sewaan dengan pengemudi yang sudah terbiasa melewati medan pegunungan. Transportasi umum dari Makassar umumnya hanya mencapai jalan poros utama di kawasan pesisir. Meski perjalanannya membutuhkan usaha lebih, pemandangan dan udara sejuk yang ditemui saat tiba membuat perjalanan tersebut terasa sepadan.
Salah satu daya tarik utama Lembah Hijau Rumbia adalah kolam pemandian dengan air yang bersumber langsung dari pegunungan. Airnya mengalir secara terus-menerus dan terasa sangat segar. Tersedia kolam untuk pengunjung dewasa dan kolam khusus anak-anak. Oleh karena itu, tempat ini cukup banyak dikunjungi oleh keluarga yang ingin menghabiskan akhir pekan bersama.
Selain berenang, pengunjung juga dapat menikmati suasana pegunungan dari vila, gazebo, atau berbagai sudut yang tersedia. Bangunan bambu yang tersebar di kawasan tersebut juga menjadi lokasi favorit untuk berfoto. Pada malam hari, suasana alam terasa semakin kuat dengan suara jangkrik, katak, dan serangga malam menemani pengunjung yang memilih menginap. Jauh dari kebisingan kota, suasana tersebut cocok bagi siapa saja yang ingin beristirahat dan menenangkan diri.
Lembah Hijau Rumbia tidak hanya menawarkan kolam pemandian. Pengunjung juga dapat mencoba berbagai kegiatan lain, seperti flying fox, permainan outbound, wisata kebun, hingga petualangan menggunakan kendaraan off-road. Kawasan ini dilengkapi dengan vila atau cottage bambu, mushola, gazebo, kafe, restoran, perpustakaan, kebun stroberi, serta area yang dapat digunakan untuk kegiatan edukasi dan penelitian. Lokasi Lembah Hijau Rumbia juga berdekatan dengan Air Terjun Tama’lulua atau Air Terjun Bossolo. Kedekatan tersebut membuat kawasan Rumbia memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai rangkaian wisata alam.
Lembah Hijau Rumbia banyak dikunjungi oleh keluarga, anak muda, dan wisatawan dari luar Kabupaten Jeneponto. Keluarga biasanya datang untuk berenang dan bersantai, sedangkan anak muda lebih banyak memanfaatkan kawasan ini untuk berfoto, mencoba kegiatan luar ruangan, atau menjelajahi alam. Waktu kunjungan paling ramai biasanya terjadi pada Sabtu dan Minggu. Jumlah pengunjung juga meningkat saat libur nasional dan libur Lebaran.
Ramainya kunjungan memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat Desa Tompobulu dan menciptakan kebutuhan terhadap makanan, minuman, penginapan, transportasi, suvenir, dan berbagai layanan lainnya. Sekitar Lembah Hijau Rumbia terdapat Kafe, restoran, dan kios suvenir yang tersedia hingga dapat menjadi ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk memasarkan produknya.
Lembah Hijau Rumbia menunjukkan bahwa pariwisata tidak selalu harus dibangun dengan fasilitas modern dan bangunan besar. Kawasan ini sebagai ruang ekonomi bagi warga sekitar dengan semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula peluang usaha yang dapat tumbuh.



